Industri Informasi dan Ekonomi Indonesia
Kalau anda suka menikmati kendaraan termewah di Jakarta, yang dilengkapi life show dan outlet berjalan, dan kadang bisa interaksi fisik dengan lainnya...
Tidaklah sulit menemukan ballpoint seribu tiga, tempat CD dua ribu kepeng dan aneka produk murah lainnya. Berapa harga pokok produksinya? Pasti!, tak satupun pabrik Indonesia mampu menjual produk dengan harga demikian. Dari manakah asalnya? Bagaimana bisa?
Cina, dengan pasar yang sangat besar membuat pabrik-pabrik besar dapat hidup dengan tenang. Skala bisnis yang sangat mendukung penekanan harga pokok bukanlah alasan utama. Bayangkan... (sudah?).
Jika setiap pabrik mencadangkan 2% saja produksinya merupakan produk yang tak terjual... berapa jumlahnya?
Ada pula yang gencar mendorong pertanian karena Indonesia dianggap negara agraris dengan pengalaman ribuan tahun dan tanah subur hingga tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Ternyata menghadapi kenyataan bahwa harga produk pertanian impor lebih murah. Mengapa oh mengapa...?
Karena suburnya berbagai tanaman di tanam sehingga skala ekonomi tak tercapai. Karena padat karya maka ongkosnya menjadi tinggi.dan "karena" yang utama adalah setiap negara mensubsidi produk pertanian untuk ketahanan pangan sehingga sisa yang diekspor menjadi murah. Indonesia pun mestinya memiliki kebijakan ketahanan pangan demikian. Karena lainnya adalah betapa luasnya area pertanian di negara pertanian lainnya. Mengapa tidak seperti Thailand yang fokus pada riset dan teknologi pertanian?
Maka yang menjadi "jualan" Indonesia di masa depan adalah manusia, dengan karakter dan keahliannya. Teknologi Informasi (khususnya software) dapat menjadi andalan di masa depan.
Apakah pemerintah kita memiliki keyakinan yang sama? Saya khawatir tidak, karena para "boss" masih gagap teknologi informasi. Bagaimana mungkin bisa memahami dan tahu cara mengembangkan industrinya?
Mengapa...... oh mengapa.....
Semoga kejadian masa lalu tak berulang. Ketika industri Jepang beralih ke Korea dan kemudian ke Cina, kita terlalu sibuk dengan diri sendiri, tak lagi melihat peluang emas yang berlalu. Negara-negara berubah dari negara pertanian ke negara industri lalu ketika makmur menjadi investor.. Kita masih berdebat tentang fondasi yang tak kunjung dibangun...
Bukankah sudah tiba saatnya mencari
pemimpin yang cerdas dan berani.
Wahai pemimpin ingatlah:
Siapa yang ingin kuasa akan takut dijatuhkan.
Siapa yang ingin populer akan takut tidak populer.
Siapa yang ingin kaya akan takut miskin.
Pemimpin yang berani adalah yang berpikir hanya demi kemaslahatan umat, bukan karena menginginkan semua itu... dengan posisi yang diperoleh.
Adakah calon presiden yang demikian? |